Melihat Lynx kehilangan senjata, Kargo berdiri dengan penuh kemenangan. Kargo lalu menatap parang yang tergeletak di tanah beberapa meter darinya. Ia tertawa, suara tawa itu menggema di tengah hutan.

"Senjata seperti itu... Dengan ini, aku akan menjadi tak terkalahkan!" katanya sambil berjalan mendekati parang tersebut.

Lynx, meski terpojok, tidak menyerah. Ia melompat maju, mencoba menghalangi langkah Kargo dengan pukulan cepat. Namun, Kargo dengan mudah menangkis serangan itu, menghantamkan tinjunya ke perut Lynx hingga ia jatuh tersungkur.

"Lihat dirimu," kata Kargo, mendekat dengan langkah berat. "Kau memiliki senjata luar biasa, tapi kau bahkan tidak tahu cara menggunakannya. Aku hampir merasa kasihan padamu."

Lynx terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. Namun, ia menatap Kargo dengan mata penuh tekad. "Aku tidak akan membiarkanmu menang."

Ia menyerang Kargo dengan kecepatan luar biasa, mencoba memanfaatkan kelincahan tubuhnya. Lynx melompat, memutar tubuh, dan mengarahkan tendangan ke sisi kepala Kargo. Tetapi Kargo dengan mudah menangkisnya, mencengkram kaki Lynx dan membantingnya ke tanah.

“Kau cepat, tapi tidak cukup kuat!” teriak Kargo sambil mengayunkan pedang batunya. Lynx berguling cepat, menghindari pedang yang datang dengan kekuatan luar biasa, hampir mengenai dirinya.

“Dan kau hanya mengandalkan tenaga. Itu membuatmu lambat,” Lynx membalas sambil melompat kembali berdiri.

Mendadak hutan yang tenang menjadi panggung kekacauan. Pepohonan berguncang oleh suara raungan keras yang aneh, sementara itu Kargo berdiri tegak dengan tubuh besar yang memancarkan aura mengancam. Lynx, meski terluka, tak menunjukkan ketakutan. Ia berdiri di tengah medan pertarungan dengan busur masih tergenggam erat, napasnya memburu.

"Kau pikir kau bisa melawan aku? Lihat dirimu," Kargo mendengus sambil menepuk dada penuh percaya diri. "Tulangmu akan jadi mainan peliharaanku."

Lynx menatapnya tajam, memutar panah di tangannya. "Kau terlalu banyak bicara. Ayo kita selesaikan ini."

Kargo tersenyum kejam. Ia mengambil kembali tombaknya yang patah bagian ujung dan mengayunkan tombaknya ke tanah, menghentak keras hingga debu beterbangan. "Aku akan membuatmu menyesali keberanian bodohmu ini!"

Kargo menyerang lebih dulu, mengayunkan tombaknya dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan pohon. Lynx melompat mundur, nyaris terhantam ujung tombak.

"Apa hanya itu yang kau punya?" ejek Lynx, bergerak gesit di sekitar Kargo, mencoba mencari celah.

Dengan gerakan cepat, Lynx melompat ke atas batu besar dan melepaskan panah. Anak panah itu melesat ke arah kepala Kargo, tetapi Kargo mengayunkan tombaknya, memukul panah itu hingga terpental ke tanah.

"Cukup cepat," gumam Kargo sambil menyeringai, matanya tajam memantau gerakan Lynx. "Tapi aku sudah menghadapi banyak lawan sepertimu. Kau tidak akan bertahan lama."

Kargo melangkah maju, setiap hentakan kakinya mengguncang tanah. Ia menyerang lagi dengan tombaknya, kali ini mencoba menusuk langsung ke arah Lynx. Lynx menunduk, bergerak cepat seperti bayangan, menghindari serangan.

Dengan lompatan gesit, Lynx mendekati sisi Kargo dan melayangkan pukulan ke arah kepala musuhnya. Tetapi Kargo mengangkat lengannya, menangkis pukulan itu dengan mudah.

"Kau terlalu ringan," ejek Kargo sambil memukul Lynx dengan lengan kerasnya. Tubuh Lynx terpental, menabrak batang pohon.

Lynx terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. Tetapi ia bangkit lagi, matanya penuh tekad. "Aku belum selesai."

Lynx mulai bergerak lebih cepat, memanfaatkan kelincahannya untuk membuat Kargo kesulitan. Ia memanjat batang pohon dengan cepat, melompat dari satu cabang ke cabang lain, melepaskan panah ke arah Kargo.

Satu panah mengenai bahu Kargo, tapi hanya menancap dangkal. Kargo mencabutnya dengan mudah, tertawa mengejek. "Kau pikir ini cukup untuk menghentikanku?!"

Kargo melemparkan tombaknya ke arah Lynx, menghantam pohon tempat Lynx berdiri hingga batangnya retak dan hampir tumbang. Lynx melompat sebelum pohon itu roboh, tetapi Kargo sudah menunggu di bawah.

Dengan gerakan cepat, Kargo memukul Lynx dengan gagang tombaknya, membuatnya jatuh ke tanah.

"Kau bergerak seperti monyet, tapi tetap tidak ada gunanya melawan kekuatan sejati," ujar Kargo sambil mendekati Lynx yang mencoba bangkit.

Lynx menyeringai meskipun tubuhnya kesakitan. "Kau benar. Tapi kekuatan tidak ada artinya tanpa otak."

Dengan cepat, Lynx menggenggam tanah dan melemparkan segenggam pasir ke wajah Kargo. Pasir itu masuk ke matanya, membuat Kargo menggeram marah dan mundur beberapa langkah.

"Dasar pengecut!" teriak Kargo, mengusap matanya dengan kasar.

Lynx memanfaatkan momen itu untuk melancarkan serangan. Ia menendang sisi lutut Kargo, membuat pria besar itu kehilangan keseimbangan. Kemudian, Lynx memutar tubuhnya dan menghantamkan siku ke dagu Kargo, menyebabkan kepala musuhnya terangkat.

Kargo terhuyung-huyung, tetapi dengan cepat kembali tegak. "Bagus," katanya sambil menyeringai, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Tapi aku masih di sini."

Kargo menyerang Lynx dengan brutal, mengayunkan tombak dan pedang batunya dengan gerakan cepat dan penuh tenaga. Lynx mencoba menghindar, tetapi beberapa serangan berhasil mengenainya, membuat tubuhnya semakin lemah.

"Hanya soal waktu sampai kau jatuh!" teriak Kargo, menghantamkan gagang pedangnya ke perut Lynx.

Lynx terjatuh ke tanah, terengah-engah. Ia mencoba bangkit, tetapi Kargo menginjak dadanya dengan kaki besar, menahan tubuhnya.

"Sudah selesai, bocah," ujar Kargo sambil mengambil tombaknya. "Aku akan menunjukkan pada teman-temanmu apa yang terjadi pada mereka yang melawanku."

Lynx menggertakkan giginya, mencoba melepaskan diri. "Aku... tidak akan menyerah!"

Kargo melepaskan kakinya dari tubuh Lynx. Ia mengeluarkan seruling kecil dari kantongnya dan meniupnya dengan keras. Suara melengking yang tidak wajar memenuhi udara, seperti jeritan panjang yang menyakitkan telinga.

Burung-burung di pepohonan langsung terbang ketakutan, meninggalkan cabang-cabang yang bergoyang. Bahkan daun-daun di sekitar mulai bergetar, seolah-olah merespons suara itu.

Leena, Sherly, dan Karim, yang terikat tidak jauh dari sana, langsung menoleh dengan wajah cemas.

"Apa itu?" bisik Leena dengan napas tertahan, matanya mencari-cari sumber suara.

Sherly menoleh cepat, matanya melebar karena terkejut. "Sepertinya dia memanggil sesuatu... "

Karim, meskipun wajahnya penuh luka, tampak ketakutan. "Makhluk itu... Aku pernah mendengar cerita tentang ini. Mereka bilang Kargo bisa memanggil monster yang memakan apa saja. Tapi aku tidak pernah percaya..."

Makhluk besar itu keluar dari balik bayangan hutan. Tubuhnya dilapisi duri-duri tajam yang panjang seperti tombak. Kulitnya berwarna abu-abu gelap dengan guratan merah menyala di setiap sisinya, seperti bekas luka yang tak pernah sembuh. Matanya bersinar merah, memancarkan kebencian yang tak wajar. Makhluk itu menatap Lynx, mengeluarkan raungan yang mengguncang tanah.

"Lihat ini!" teriak Kargo sambil menunjuk makhluk itu. "Siapa pun yang berani melawanku akan menghadapi dia!"

Monster itu bergerak dengan suara gemuruh, setiap langkahnya meninggalkan jejak besar di tanah. Makhluk itu menatap Lynx yang tergeletak di tanah dengan tatapan dingin, lalu mendekat perlahan.

Monster itu menunduk, cakarnya yang besar menjulur ke arah Lynx. Dengan sekali gerakan, ia mencengkram tubuh Lynx dan mengangkatnya seperti boneka kain.

Setelah mengambil parang, Kargo kembali ke kelompoknya dan melihat mereka sudah menangkap beberapa orang.

Leena menahan napas saat bayangan besar muncul di antara pepohonan. "Apa itu..." gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.

Monster itu mengeluarkan raungan keras, membuat tanah di bawah mereka berguncang. Leena langsung memejamkan mata, tubuhnya gemetar ketakutan. "Tidak... tidak mungkin," bisiknya, hampir menangis.

Sherly, yang biasanya bersikap dingin, kini tampak ketakutan. Matanya melebar dan ia mundur sedikit, meskipun masih terikat. "Ini gila... Dia benar-benar memanggil monster. Lynx tidak akan bisa melawan itu," katanya dengan suara gemetar.

Karim hanya bisa menunduk, rahangnya bergetar karena takut. "Ini... akhir kita."

"Tidak!" jerit Leena dengan suara yang pecah saat melihat Lynx berada di cengkraman makhluk itu. Air matanya mengalir deras saat ia mencoba meronta, tetapi tali yang mengikatnya terlalu kuat. "Lepaskan dia! Jangan lakukan ini!"

Sherly hanya menatap dengan wajah pucat, mulutnya terbuka tetapi tak ada kata-kata yang keluar. Dalam hatinya, ada ketakutan, tetapi juga rasa lega tersembunyi. "Lynx kalah... aku harus mencari cara untuk bisa melepaskan diri, aku bisa memanfaatkan situasi ini" pikirnya.

Karim memalingkan wajah, tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi.

Kargo menatap Lynx dengan penuh kemenangan, lalu melambaikan tangannya ke arah monster. "Taruh dia di sana. Aku ingin semua orang melihat apa yang terjadi jika mereka menentangku!"

Monster itu menurunkan Lynx dengan kasar, melemparkannya ke tanah di depan Kargo. Lynx terbatuk, darah mengalir dari mulutnya, tetapi matanya masih menatap tajam ke arah musuhnya.

Kargo mendekat, menyeringai lebar. "Sekarang, mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan sebelum aku menghancurkanmu sepenuhnya dengan senjatamu sendiri," katanya, mengangkat sambil mengangkat parang untuk memberikan pukulan terakhir.

Lynx, meskipun terluka, mencoba berdiri. "Aku tidak peduli makhluk apa yang kau panggil. Aku akan menghentikanmu."

Kargo mendekati Lynx dengan tatapan penuh kebencian. "Kau sudah selesai."

Dengan gerakan cepat dan kuat, ia menusukkan parangnya ke perut Lynx. Ujung parang itu menembus tubuhnya, membuat Lynx jatuh ke tanah dengan darah mengalir deras.

"LYNX!" teriak Leena histeris dari tempat ia diikat. Ia berusaha meronta, tetapi penjaga menahannya.

Lynx terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Ia menatap Leena dengan mata yang mulai kabur. "Maaf... Aku tidak bisa menepati janji... untuk melindungimu."

Leena menangis keras, dia meronta dan berhasil melepaskan diri mendekati Lynx. Dalam keadaan panik, ia merogoh tas di punggungnya dan menemukan botol kaca kecil berisi pil misterius.

"Kumohon, Lynx! Jangan mati!" katanya sambil memasukkan pil itu ke mulut Lynx. Ia menciumnya untuk memastikan pil itu tertelan.

Kargo menarik rambut Leena, menyeretnya menjauh dari Lynx. "Kau pikir ini akan menyelamatkannya? Dia sudah mati."

Leena meringis kesakitan, tapi matanya menatap Kargo dengan penuh determinasi. "Kami tidak akan menyerah. Kau akan membayar atas semua kekejaman yang telah kau lakukan!"

Ia memberi isyarat pada makhluk mutasi. "Buang tubuhnya ke jurang. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Dan kalian, cepat jalan! Aku tak ingin ada yang mencoba kabur lagi."

Makhluk itu mengangkat tubuh Lynx yang tak bergerak dan membawanya ke tepi jurang. Leena dan Sherly menangis keras, tetapi mereka tidak bisa melawan.

"Tidak! Jangan bunuh Lynx!" teriak Karim.

Tiba-tiba, Karim berhasil melepaskan diri dari pegangan pasukan Monrest dan berlari mendekati Lynx. Ia berusaha menolong Lynx dengan menarik tubuhnya. Namun beberapa orang Monrest menahan dan memukulinya.

"Tidak! Lynx! Jangan!" jerit Leena saat tubuh Lynx dilempar ke dalam jurang.

Kargo geram melihat perlawanan Karim. Ia segera memerintahkan untuk menangkap Karim dan membuangnya juga ke jurang.

Kargo tertawa puas. "Itulah nasib siapa pun yang berani melawan aku."

Leena dan Sherly hanya bisa menjerit histeris menyaksikan Karim dilempar ke jurang, menyusul Lynx. Mereka berdua terpaksa mengikuti Kargo dan rombongannya, hati mereka penuh kesedihan dan kemarahan.


